Ujung dari keintensifan antara pria dan wanita yang sama-sama lajang adalah pelaminan, bukan hanya sekedar mengumbar kasih pra menikah. Harapannya pun satu, bersanding dalam singgasana bersama, mengarungi sisa waktu berdua, dan ingin bersama sampai ajal menjemput. Bahagia bukan hanya di dunia, namun dipertemukan kembali olehNYA dalam kerajaanNYA yang mewah.

Sungguh bahagia bila semua terjadi sesuai rencana, bukan rencana manusia yang condong akan keinginan dunia, namun rencana Tuhan yang pasti dan terjamin menjadi yang terbaik.

Bila saat itu tiba, beruntunglah. Bila belum juga tiba, itu artinya Tuhan menyuruh untuk melangkah ke depan secara cepat guna menjemput bagian yang terbaik bagimu.

“Cintailah dia dengan izin Tuhanmu bila dengan begitu kau menjadi semakin tunduk dan berpasrah diri akan segala kehadiranNYA. Tapi bila dengan mencintainya kau semakin jauh dari penglihatanNYA, lebih baik tinggalkan dia demi akhiratmu”

Apakah yang aku lakukan adalah frase pertama, atau malah keadaan kedua? Bagaimana aku tahu jika aku lebih tunduk sedang dia selalau mengalihkanku dariNYA. Sebaliknya, aku justru semakain tak yakin dengan akhiratku bila tanpa dia dengan senyumnya yang dapat meneduhkan keresahanku?

Tuhan, CintaMU yang kudamba, kasihMU yang kucari, asmaMU yang kusebut, biarkan aku meraih apa yang telah KAU tetapkan untuk terjadi. Dekap selalu aku dan dia dalam lindunganMU, karuniaMU, dan cahayaMU yang terang abadi.

 

 

Bila mengingat kejadian dimana kau terlibat didalamnya membuatku tersenyum dan bersemangat, apakah itu tandanya…?

Rupanya Tuhan telah menganugerahkan sedikit kasihNYA langsung kepadaku, sehingga apabila mengingatNYA, yang aku lantunkan adalah, “Jadikan ia yang Engkau Pilih Ya Rabb, hanya untukku, guna menggapai ridhaMU”

Segera setelah itu, muncul sesungging senyum kecil diwajahku, berbalut semangat yang membuncah untuk membuktikan, lebih tepatnya mengaktualisasi bahwa aku, cepat atau lambat, adalah juga yang menjadi satu-satunya tambatanmu dihadapanNYA.

Sungguh rencana Tuhan akan dan selalu menjadi yang terbaik, tunggulah kehadiranNYA pada malam dimana aku dan kau telah halal untuk bercumbu sesuai sunnah.

Amin.

 

Begitu lihai setan menggoda

ia sulap muka agar nampak bercahaya,

suara yang merdu didengar telinga,

mulut yang tajam untuk memuja,

bukan pada zat yang esa, tapi kepada sesama manusia.

Oh, betapa mudahnya hati goyah

bila telah berkelana bersama dia yang bisa membuat tersenyum selama tak bertatap muka,

bila telah berbalas tawa atas apa yang menjadi perbincangan semata.

Tuhan, Kau tahu aku telah menyerahkan semuanya kepadaMU,

aku tunggu waktuMU, ketetapanMU yang suci dari campur tangan makhluk,

terutama setan yang selalu ingin menjerumuskan

Bersalaman, berjamaah, dan pergi.

Itulah yang terjadi malam itu, aku mencoba bersalam denganNYA, ya dengan DIA yang Maha Perkasa, dengan caraku sendiri. Tak peduli apapun yang terjadi, karena DIA melihat langsung ke hati.

Berjamaah berarti bersama. Bersama menunaikan perintahNYA tanpa ada ragu di dalamnya. Hanya DIA tujuan utama, bukan surga apalagi pahala.

Meninggalkan kenyamanan demi mencapai moksa, sengaja pergi guna mencari jati diri dan merasakan kehadirat Ilahi. Terbenam dalam alunan sepi yang menyentuh hati, gema vokal “Hu” keluar bersama nafas para pencari.

Duhai, sebegitu indahkah berada sepenuhnya dalam kasihNYA? MelayaninNYA bukan hanya dengan tenaga tetapi juga seluruh jiwa. Bahkan hidup dan matipun hanya karenaNYA.

Bila telah demikian bulat, apalagi yang pantas dirisaukan dalam hidup selain kehilangan keberadaanNYA?